AGAIN?!

Biasanya sih setiap awal tahun.
Biasanya sih pindah ke tetangga.
Biasanya sih ...
ah ga ada biasa-biasa lagi.
Saatnya mencoba anti-mainstream. Jadi yang biasanya ganti blog setahun sekali untuk menyamarkan sekarang ganti karena ada tujuan khusus.

Bosan cari masalah. Takut ada yang menggugat. Jadi mari kita migrasi ke halaman baru.

"Kalau denger ceritanya mas arman, keknya hidupku kerasa biasa aja. Flat gitu" say someone dulu. Oke mari kita buktikan. Apakah benar hidupku lebih berwarna darimu jak. Everybody have their own story. Jadi silahkan bandingkan di blog baru. Ditulis untuk dibaca semua orang.

Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Daripada terus-terusan uring-uringan karena sepertinya tidak ada pengaruh positif apa-apa yang ku hasilkan selama kuliah ini dan aku lebih suka menginspirasi daripada menasehati. Karena menasehati mereka yang hidupnya sudah terikat dengan hal semu bagiku adalah buang-buang tenaga. Jadi semoga kisah-kisah pilihan ini menginspirasi kalian agar selalu menjadikan hidup kalian berharga, penuh warna, penuh kebaikan. Karena hidup cuma sekali ini saja. Jadi lukislah pelangi dimana kalian melangkah.
Semoga menginspirasi bagaimana menjadi manusia yang ingat alam yang harus kita jaga dan etika dalam hidup bersama.

Spesial thanks untuk Laskar 38 yang telah menemaniku bertahan di jogja hingga niat pergiku hilang di tahun kedua, kepada keluarga BEM KMFT UGM yang mengajariku etika seorang manusia, Soedirman yang membuatku akhirnya merasakan keberhasilan memandu seperti yang ku lihat dari Mas Adit sang pemandu Laskar 38, dan Djaki si sabar, Amal si cupu, Dimce si cacat, Mas Gilang yang tua, Atul yang payah, Rina si norak yang membuatku selalu senang menjadi manusia koplak.

sekarang ku coba sedikit merangkai huruf di halaman yang baru, dari biangmasalah menjadi cukup bermasalah.
Eh salah, cukuptersenyum yang benar.
--------------------------------------------------------------------------
kamis, 25 september 2014
Setelah kebingungan atas apa yang bisa aku lakukan
Sedikit usaha untuk menggapai mimpi

Entah Kenapa

Seperti malam biasanya, empat digit angka di pojok kanan bawah notebookku sudah menunjukkan bahwa tengah malam pun sudah terlewati. Menunggu terbitnya fajar dengan segudang hal yang bisa dilakukan bersama notebook. Menunggu waktu untuk sel-sel tubuh ini merasa perlu beregenerasi dan membuatku merasakan yang namanya ngantuk. Namun tidak seperti biasanya dimana dengan hampanya ruang berfikir maka tangan ini memainkan iramanya, entah bermain Ragnarok 2 bersama teman-teman Nocturno, bermain Dota 2 bersama Chromus, membaca berita-berita yang belum dibaca seharian ini, ataupun sekedar menelusuri sosial network mencari fakta ada apa dengan hari ini. Malam ini ada sesuatu yang mengganjal di akal non-fisikku. Membuat akal fisik memikirkan hal-hal yang menurutku tidak perlu dipikirkan dan cukup percaya dengan diri sendiri dan janjiNya saja.

Meskipun kelihatannya aku biasa saja. Terlihat tidak ada bedanya dengan semester sebelumnya. Percayalah bahwa aku ini butuh bantuan. Perlu sebuah motivasi. Bukan motivasi ISIS (Ingat Skripsi Ingat Sidang) karena memasuki semester SEMBILANku. Melainkan motivasi untuk menjaga agar pilar-pilar karakterku yang selama ini begitu kokok agar tetap kokok. Keraguan mulai banyak menyerang celah-celah yang terbentuk akibat proses berjalannya waktu (lebih tepatnya waktu berjalannya proses). Sekarang sudah september dua ribu EMPAT BELAS dan sebentar lagi sudah LIMA BELAS sementara aku merasa tidak ada impact apapun yang dilahirkan dari keberadaan di sini. Apakah aku benar-benar tidak mampu merubah dunia menjadi tempat tanpa kesemuan? Walau hanya semeter pun?

Beberapa minggu yang lalu mungkin aku sudah tidak seperti ini lagi walau sebelumnya juga seperti ini. Tapi mengingat percakapanku dengan Ipul tentang alasan kenapa aku tidak pernah mau ikut yang namanya PE-KA-EM membuatku kembali teringat hal yang tidak perlu dipikarkan ini. (Ah, salahmu nih Pul -..-”)
Membuatku memikirkan kenapa aku masih saja di posisi ini, masih ada di sekre, masih di Sleman, masih belum bisa memenuhi janjiku sampai saat ini. Bahkan hingga detik ini pikiran ini masih membebaniku. Aku masih belum menjadi orang berhati besar seperti di film 3 Idiot. :’)
Yah tidak perlu dipikirkan memang (meskipun masih terpikirkan). Cukup tetap berusaha memberikan yang terbaik dan percaya dengan janjiNya. Semoga pikiran ini segera hilang.

-------------------------------------------------------------------------------------
Kamar nomor tiga
di tengah bertambahnya kemurungan dunia

Horor! Ini Malam Terhoror, Percayalah!

Seperti malam lainnya yang sudah berlalu. Tablet sudsh menunjukkan pukul 02:45. Saat dimana biasanya aku melakuka  ritual produktif (ngetik, nugas, ngaji).
Ya tapi itu biasanya kalau sepi orang. Kalau rame orang mah isin. Reflek ngerjain rutinitas ngumpet ngumpet. Biar ga dibilang ria (bukan nama orang). Sekarang ini kamar lagi penuh sama 4 orang teman yang sedang datang menginap. Si dimas yang datang-datang tidur, si Ali yang ngikut Zaky. Terus orang ke empat siapa?
Dimas, Ali, Zaky.
1. Dimas, 2. Ali, 3. Zaky.
Loh satu lagi siapa ini?
#mendadakngeri
Ternyata perasaan tidak nyaman mendadak muncul. Aku coba kembali menghitung ulang tamu di kamarku.
Dimas...
Ali...
Zaky...
"Bismillah" ucapku dalam hati sambil terus menghitung
Zaky.
Ah iya benar 4 orang. Zaky kan dihitung dua. Alhamdulillah semua manusia.

*ditampar pembaca

Memang pengalaman yang akan tertulis di tablet ini pengalaman horor. Tapi bukan candaan di atas.

Walau memang betul kalau Zaky dihitung dua.
Malam-malam masih terjaga memang selalu membuat kerongkongan dan tenggorokan ini cepat haus. Mungkin pengaruh udara yang dingin.
Berdiri dari kasur. Ambil gelas di atas lemari. Buka pintu kamar menuju dapur yang letaknya cuma terpisahkan oleh satu kamar disampingku.
Udara di luar kamar begitu sejuk. Kalau dingin mah udah terlalu mainstream dalam kebanyakan cerita horor

Dalam hitungan detik aku sudah di dapur menghampiri dispenser air.
Glup... glup... glup.. bunyi air dan udara berbaur di dalam galon dispenser.
Gluk... gluk... gluk... bunyi air yang mulai masuk ke dalam mulut.
Guk... guk... guk... eh loh anjing tetangga pake ikutan bunyi jg. Sepertinya dia haus juga.

Lucunya...
Tumben akj tidak langsung kembali ke kamar. Masih terdiam di depan dispenser.
Perasaan ganjal membuat otak yang berkarat karena kebanyakan nyebur di air garam ini berfikir.
"..............." memang ga bisa mikir ternyata.
Begitu aku mau berbalik kembali ke kamar. Terlihat proyeksi bayangan hitam bergerak di lantai. Dengan santainya ku tengok ada apa di atas kepalaku. Ternyata banyak serangga bertebangan di seputar lampu.

Monolog di bawah ini berlangsung tanpa terucap. Hanya terucap oleh hati.
"Hoo.. tawon"
"Tawon..."
"......."
"Itu tawon kan?"
"Banyak amat"
"......"

Masih terdiam di posisi yang sama dan ada seekor yang terbang melintasi mataku. Persis di depan mata. Hingga aku bisa mendengar jelas bunyi kepakan sayapnya yang begitu cepat.
Hingga aku melihatnya seolah-olah lebih besar dari biasanya.

"Hahaha.." ucapku dengan muka menyedihkan.

Tanpa punya waktu untuk berfikir lagi tubuhku refleks lari dan masuk ke kamar. Mengunci pintu dua putaran kunci pintu dan menyempatkan  badan di antara Dimas dan Zaky dan Zaky.
Berharap hal yang menakutkan daripada hantu barusan segera hilang.


------------------------------------------------------------
Ditulis menggunakan tab di antara dua gumpalan lemak
saking takutnya dan masih shock atas apa yang dilihat

Endonesah jangan ngaku Indonesia! Metu wes!

"Dasar Endonesah!"
Sebuah kalimat yang muncul di homepage 'Wajah Buku'ku akhir-akhir ini.
Ya tidak masalah bagiku selama tidak keluar kalimat "Dasar Indonesia!"... menyinggungku juga kalau begitu.
Endonesah? hmm, cukup bagus buat manusia yang sok-sokan nasionalis di negeri ini. Setidaknya bisa untuk mengesampingkan mereka dari kata Indonesia.

Indonesia. Sebuah nama yang diperjuangkan oleh pendahulu kita.
Sebuah nama yang diperjuangkan oleh seorang engineer dulu. Engineer dengan mental Indonesia di dalam dadanya. Tidak seperti engineer sekarang, dimana Indonesia hanya sebatas kata untuk mengangkat martabat mereka. Aku berani bertaruh kalau aku kumpulkan 10 calon engineer di kampusku sendiri dan ku berikan pertanyaan tentang sejarah bahasa Indonesia maka tidak sampai setengah dari mereka yang tahu dan aku yakin tidak dari setengah yang tidak tahu itu malu karena tidak mengetahuinya. Bahkan mungkin beberapa akan berkata "ah bukan urusan kita", "itu mah pelajaran anak sastra", "wajar lah", dan semacamnya.

Sebuah nama yang diperjuangkan oleh pendahulu kita untuk memperjuangkan hak-hak kita. Hak untuk merdeka. Hak untuk hidup bahagia. Perjuangan untuk memperjuangkan kebenaran.
Sekarang?
Masih sama kok. Masih sama-sama berjuang.
Tapi...
Mulai banyak yang salah memperjuangkan hal. Aku tidak yakin lagi kalau yang diperjuangkan adalah kebenaran.
Lantas?
Hmm.. mungkin yang diperjuangkan adalah ego kita.

Beberapa hari terakhir ini ada berita tentang seseorang pengendara motor yang melawan arus lalu lintas di sebuah jalan. Sialnya orang nakal itu tertabrak oleh mobil yang mengikuti arus lalu lintas. Dan tebak siapa yang salah disini? Jelas si pengendara motor. Tapi sayangnya justru si pengendara mobil ikutas sial. Warga sekitar langsung melakukan kegiatan amuk masa mereka terhadap pengendara mobil. Endonesah!

Tidak cuma itu, dulu juga pernah ada berita tentang polisi yang dicaci-maki oleh gerombolan motor yang melawan arah hanya karena alasan "buru-buru, nanti telat kerja". Alasan tersebut bahkan memenangkan mereka daripada kemacetan yang mereka buat. Endonesah!

Bahkan lucunya sekarang Indonesia masuk sebuah web yang isinya banyak gambar karena hal internet lelet, pak menteri memblokir halaman-halaman yang mengandung konten dewasa (baca : porno), dan sebuah postingan di sebuah situ yang jelas-jelas disclaimernya adalah hanya candaan dan tidak benar.
Endonesah!

Bahkan pernah suatu hari teman membuat status di Buku Wajah "Indonesia masuk salah satu negara dengan internet terlambat di dunia.". Lantas berikut komentar dibawahnya :
Me : "Emg kalau cepet mau dipake buat apa?"
X : "Buat download lah, biar ga lemot"
Me : "Mayoritas dipake buat download apa? Download software bajakan? Film Bajakan? Download gambar tapi ga disave (buka halaman dengan gambar banyak) buat hiburan? :-)"
Dan komentar terakhir saya itu tidak mendapatkan balasan :-v
Saya menggunakan koneksi modem saja masih lancar kok untuk bermain game internasional. Koneksi umum? lancar kok buat upload tugas.... selama tidak ada para endonesah yang mengambil bandwith dengan menggunakan IDM (udah ngebajak, bikin susah orang pula!)

Pliss deh. Ini negara Indonesia. Negara kami.
Buat kalian para endonesah mending bikin negara sendiri aja kalau masih seperti ini.
Bikin negara baru dengan nama Endonesah dimana isinya yang salah yang berkuasa, internet tanpa konten dewasa maka diblokir, dan apapun yang kalian inginkan lah.

--------------------------------------------------------------
Ditulis di Kamar Kos Nomor 3
Sesaat setelah muak dengan komentar-komentar tanpa ngaca

Pembodohan Penyempitan Berfikir

"Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran yang memiliki dimensi-dimensi sesuai tahapan pembelajarannya, dari yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, tidak mampu menjadi mampu yang disapat dari kontak pengindraan ataupun pengalaman."

Ya setidaknya itu lah definisi pengetahuan yang kupahami dengan menggunakan kacamata "Revisi Taksonomi Bloom" dan juga "Pengalaman".
Secara filsafat dan sosiologi, syarat agar pengetahuan dapat berkembang tanpa terbelengu dengan sempitnya pandangan pemikiran kita maka jangan terikat dengan penemu teorinya, melainkan lupakan dan compare dengan yang lain dan bebaskan pemikiran yang ada.

Begitu pula dengan bahasa indonesia. Coba pikirkan, lapar dan kenyang adalah berlainan kata. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahwa arti kata dari lapar adalah ingin makan, sedangkan kenyang adalah kenyang. Seandainya kita berfikir bahwa menurut arti kata diatas, lapar dan kenyang itu relatif, masih sesuatu yang abstrak.
Sedangkan menurut ilmu pengetahuan, definisi dari lapar adalah saat kadar gula dalam tubuh menurun. Sedang definisi lapar atau ‘hunger’ menurut Carol Ann Rinzler dalam bukunya Nutrition For Dummies adalah kondisi saat kita MEMBUTUHKAN makanan. Rasa lapar terjadi dari serangkaian mekanismu tubuh, saat tubuh kita kekurangan energi. Jelas-jelas membutuhkan dan ingin ada sesuatu yang berbeda. Lantas kenapa di kamus berbeda?
Hal ini terjadi lantaran untuk mempermudah pemahaman anak kecil. Namun tanpa kita sadari bahwa hal tersebut justu membuat pikiran kita sempit.

Anarkis!
Apa yang ada dipikiran kita saat mendengar kata tersebut? Mayoritas memahami bahwa anarkis adalah berbau kerusuhan. Apalagi untuk para pejuang yang turun ke jalan (Read: Demo).
*alasan kenapa menggunakan kata demo adalah sebab saya percaya bahwa mereka yg menyebut aksi lebih mengerti ttg definisi anarkis*
Sebenernya definisi dari anarkis adalah sikap menolak pemerintahan/kekuasaan, namun berbeda dengan kerusuhan dan kerusakan. Anarkis adalah paham yang menjunjungg tinggi kebebasan.
Tapi apa yang mayoritas bangsa ini pahami?
Penyempitan pemikiran yang sudah ditanamkan kepada kita sejak kecil menyebabkan kita tidak bebas untuk berfikir tentang esensi hidup ini secara luas. Terbelenggu oleh rantai-rantai pembelajaran praktis.

Hidup ini tidak bisa hanya sekedar kita menerima sesuatu yang sudah dianggap benar. Pernahkah kita berfikir bahwa kenapa A disebut A? Pernahkah kita mempertanyakannya? Atau kita sudah menganggapnya benar karena takut ditertawakan ketika bertanya?

How Poor

Di suatu sore yang indah, seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan menuju villa di Puncak bersama teman-temannya bercanda dan tertawa bersama hingga akhirnya seorang temannya berkata "enak ye jadi elu, tajir. Setidaknya apa yang elu mau bisa elu dapet meski berusaha. Lah gue, usaha pun belum tentu dapet". Dan lelaki tersebut hanya tersenyum sambil berkata "nggak juga kok, I'm just a poor person".
"Apaan, kalau elu miskin terus yang di luar sana apa tuh?" balas temannya sambil menunjuk pada pemandangan di luar dimana terdapat sebuah petani yang sibuk menggarap lahan bersama keluarganya di sawah milikknya yang tidak jauh dari pinggir sungai.
"Kasihan ya" ucap temannya kembali.

Sejenak lelaki yang dari tadi tersenyum tersebut menjadi sedikit murung.
"Elu punya pembantu yang elu gaji, mereka punya alam dan keluarga yang sukarela membantu kegiatan sehari-hari. Di villa gue punya kolam renang, mereka punya sungai. Di villa kita punya penerangan dan api unggu, mereka punya bintang-bintang yang selalu menerangi senyum. Kita masih harus beli makanan, mereka yang membuatkan kita makanan. Kita punya teknologi, mereka punya alam. Kita punya kamus dan buku-buku lengkap, mereka punya al-quran. Kalau mereka muslim."
Mendengar lelaki tersebut berkata demikian maka teman-temannya yang lain pun terdiam.
"Memang ya kita itu kasihan sekali, ga punya apa-apa" ucapnya sambil kembali tersenyum pada teman-temannya.

"Bukanlah uang yang membuat kita kaya, melainkan hati yang besarlah yang membuat kita menjadi kaya kehidupan."

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di tengah gelapnya malam yang menyelimuti pejuang-pejuang tidur mengisi energi
(Sekretariat BEM KMFT UGM)

Topeng-topeng non-comfort zone

"don't judge the book by its cover"
 
Kalimat tersebut sudah sering kali ya kita ucapin dalam sehari-hari kita. Apalagi rangkaian kata-kata tersebut bisa dibilang paling gue inget dalam bertindak sehari-harinya karena kebiasan untuk membuat topeng-topeng kepribadian yang gue lakukan.
Hidup kok banyak topeng?
Hidup itu ya harus apa adanya... kata orang sih gitu.. #katanya
Tapi karena gue itu antimainstream, jadi ya rada berbeda gitu deh.
Oke! cukup basa-basinya!

Ada sebuah teori tentang comfort zone :
we all have a comfort zone where everything feels safe and familiar.  
Itulah zona nyaman kita, sebuah kondisi dimana kita akan hidup dengan tentram.
It's reality! But, itu hanyalah hasil dari pemikiran akal kita. Pada nyata bila kita terlalu lama di dalam comfort zone justru itu akan melemahkan kita. You WEAK!
Hidup itu adalah petualangan tiada henti. Buat apa coba kita berlama-lama berhenti di pit stop, cuma bikin kita ketinggalan lap dibandingkan yang lain. Begitulah definisi sebenernya comfort zone kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
“You have to be uncomfortable in order to be successful, in some ways. If you stay in your comfort zone! You would never do the things that you need to do. And you won't learn anything”
Kalau memang kita mau berkembang maka keluar saja dari comfort zone tersebut. Dan menikmati tantangan-tantangan baru di petualangan yang menanti di luar sana.
Tapi tentu untuk menyambut petualangan di luar sana tidak sedikit persiapan kita. Mulai dari bekal, persiapan mental, hingga pengorbanan-pengorbanan. Dan tidak sering kita harus beradaptasi ketika sudah sampai di stage (anggap aja game yang ada stage-stage difficulty-nya) yang akan kita lalui. Termasuk beradaptasi sifat. Sebab tidak sedikit kondisi dimana kita terkadang harus mampu menyesuaikan sifat kita agar bisa berperan semaksimal mungkin (sekarang ceritanya lagi main RPG nih). Atau bahkan sampai mengubah sifat kita secara total, atau berpura-pura.
"hidup ini adalah sandiwara dalam panggung-panggung yang begitu banyak"
 Ya hidup ini adalah panggung-panggung kehidupan. Stage dimana kita harus perform dengan topeng-topeng. Topeng-topeng itulah yang akan mengantarkan kita pada kenikmatan bermain. Seperti contoh peribahasa serigala berbulu domba. Tidak sedikit juga kita menjumpai seseorang yang berpenampilan seperti orang baik padahal sejatinya ia lebih buruk dari pembunuh seribu orang.
Bila kita berfikir seperti orang tersebut maka pasti sangat menyenangkan sekali menjadi seperti itu.
Suatu kesenangan tersendiri bukan?
Ya itu kalau kita berbicara orang jahat...
Kita ambil contoh seorang mahasiswa yang sebenarnya BISA, tapi ia selalu berusaha untuk tampak sebagai TIDAK BISA. Cemooh-cemooh pun dilontarkan kepada mahasiswa tersebut. Hingga akhirnya ketika tiba masa-masa pembuktian dimana teman-temannya yang tadinya mencemooh ia ternyata tidak mampu berdiri di panggung yang lebih tinggi dari ia. Jangankan yang lebih tinggi, sama pun tidak.
Di atas tadi adalah contoh netralnya.
Contoh baik? banyak sekalii... lihat saja sahabat-sahabat Nabi.

Tapi untuk mampu mengenakan topeng demi petualangan di dunia luar tersebut kita perlu mental yang cukup kuat. Sebab tidak sedikit kata-kata dan hal-hal negatif yang akan dilontarkan untuk meretakkan topeng kita. Tapi asal idealisme kita kuat... maka tidak ada yang tidak bisa.
Sebab potensi manusia itu tidak punya batas yang dapat mengekang perkembangan kita.

Nah jadi dimana kita?
Masih di dalam comfort zone atau sudah menikmati petualangan di dunia luar yang penuh dengan tantangan dan stage-stage untuk evolusi (memangnya digimon) kita?

Critical Review Signals and Systems Chapter 1

Jadi ceritanya nih gue ngulang kuliah "Pengolahan Sinyal". Jadi ini bukan kuliah pertama gue nih.
Selasa malam, gue terbangun ketika jam di GSII gue menunjukkan angka 01.10. Bukan karena pengen tahajud meskipun sebenernya gue pengen. Tapi gegara kucing di sekre rese bener seenaknya berantem di atas badan gue. Otomatis gue bangun dan insiden ini membuat gue mengecek jadwal mata kuliah pagi ini.
Pas gue cek ternyata kuliah Pengolahan Sinyal. Ah elaah.. bukannya sombong ya. Tapi karena gue ngulang jadi gue merasa lebih expert lah B-)
Tapi ga lama kemudian gue inget satu hal. Tugas bikin Critical Review sebagai syarat masuk kuliah.
MAMPUS GUE!
Masa kita disuruh nyari kesalahan si Oppenheim sang pengarang buku "Signals and Systems". Secara kita aja lebih jauh lebih bego dari Oppenheim. Mana bisa nyalahin teorinya. Sedeng ga?
Dan berhubung internet lagi lemot dan gue ga bisa buka web dosennya.
Jadi langsung saja gue kembali tidur
:-3

Terus pegimane kabar review gue?
Ga masalah.. jam 11 siang gue kerjain di Perpustakaan Teknik #gaya
Tentu dengan cara gue sendiri dan bahasa yang koplak sebagai ciri khas gue.
Berikut ini tulisannya :

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Signals and Systems...
Mereview dari resume tahun lalu (saya ngulang T..T) akan hubungan impulse dan step.
Bila suatu sistem mempunya input impulse, sedangkan yang dibutuhkan adalah  output hasil step..
Maka bisa digunakan hunungan antara impulse dan step dimana step bisa diperoleh dengan mengintegralkan impulse itu sendiri.
Dan setelah dibaca ulang ada juga hubungan sinyal exponensial dengan sinyal sinusoidal dalam persamaan euler :
ejw(o)t = cos wot + j sin wot
Dari 2 theory diatas muncul pertanyaan :
  • Hubungan antara sinusoidal dan eksponensial terhadap impulse dan step?

 
Bila saya tanyakan ke teman saya maka jawabannya "baik-baik saja."
Bila ditanyakan ke film Dragon Ball maka jawabnya "ada diujung langit.."
Akhirnya saya menyerah dan bertanya ke logika saya sendiri ditambah dengan teman saya (yang lebih normal) sebagai referensi dan partner diskusi.
Ternyata mereka mempunyai hubungan yang menarik.
Berdasarkan ilmu yang saya dapat selama 5 semester kuliah (ada juga ternyata yang masuk). Maka dengan menggunakan theory "limits" maka gelombang sinusoidal dan eksponensial tersebut bisa dipotong-potong menjadi impulse yang sangat banyak dimana jarak antara satu impulse dan lainnya sangat dekat sehingga hampir mendekati 0.
Nah.. dari impulse jelas bisa menjadi step.
Jadi hubungan mereka ternyata tidak baik-baik saja, namun cinta segitiga.
Karena keterbatasan waktu dan kapasitas otak saya maka saya belum mendapatkan referensi lain apakah isu cinta segitiga tersebut valid atau hoaks.
-the end-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gile ga tuh?
Tapi dengan pedenya gue kumpulin itu tulisan.
Entah dibaca dosen apa nggak.
Semoga pertemuan kelas minggu depan gue nggak diapa-apain >..< 
 

Renungan Kala Akhir Ujian

Horee~ ujian sudah hampir berakhir.
sudah hampir 2 minggu ini dilalui dengan menjadi kupu-kupu. Menjadi mahasiswa yang kerjanya kuliah pulang karena sedang minggu-minggu ujian. Jujur sebenarnya ujian akhir semester kali ini rasanya santai banget, ga terlalu bikin stres seperti biasanya.
Secara setiap hari setelah ujian langsung pulang dan belajar sendiri untuk persiapan ujian selanjutnya sampai sore. Malamnya lanjut belajar kelompok. (oh maan.. aku melanggar peraturan yang aku buat sendiri).
Dan lagi aku selalu keluar pertama pula #gaya B-)
Bukannya berarti ga bisa ya. Keluar itu terjadi setelah aku memastikan bahwa sudah mentok apa yang bisa aku lalukan selama masih sejalan dengan idealismeku.
Idealismeku adalah :

Nilai bukan segalanya. Nilai ada bonus. Dan ilmu yang bermanfaat adalah hadiah yang sebenarnya. Daripada menyontek lebih baik langsung keluar. Lebih menjaga harga diri.

Namun layaknya manusia yang tidak pernah selalu benar. Di ujian yang terakhir ini, Responsi Praktikum Teknologi Sensor aku lalai dan melupakan idealisme tersebut. Aku terpaku pada kelancaran yang linear tersebut sehingga di ujian terakhir ini aku justru ikut berbaur dan mengupayakan mendapatkan nilai A. Sedangkan hakikat dari ilmu tersebut telah ku kesampingkan hanya demi satu huruf tersebut. :-(
Astagfirulllah... #istigfar
dan juga Alhamdulillah karena Allah SWT masih mengingatkanku dengan memberikan nilai yang sudah pasti tidak A. Mungkin B.
Namun C pun aku rela karena apapun nilainya, itu hanya mengingatkanku akan betapa lemahnya diri ini. :-(

Terima kasih atas peringatanMu.
Atas penjagaanMu terhadap nilai yang ku pertahankan.
Semoga ini menjadi tamparan keras untuk kebaikan selanjutnya.
:-)

-----------------------------------------------------------------------------------------
Menatap gelapnya langit dan dinginnya malam di Fakultas Teknik.
Dalam renungan atas lemahnya diri ini.
-----------------------------------------------------------------------------------------


Telur on Teleskop

 
Kami dari regu telur
iaiao
Ada telur cicaak.. Katanya kecil
Ada telur kadall… katanya gede
Ada telur ayam, rasanya enak,
Itu semua telur.. Telurr.. Telur.. Telurr.. Telurr..
*buar
Di teleskop yang kutunggu kutunggu...
kami di sini…
U u u pyarr
Dari berbagai penjuru penjuru…
Kita bersatu…
U u u pyarr
Disiplin mandi sendiri
Itu kami
Unyu unyu unyu
Mencoba jadi pemimpin
Yang berani
O yeah..
TELUR
unbreakable

Deadline!

Beberapa selesai dan beberapa lagi masih harus dikejer
walaupun akhirnya ada juga yang gagal setelah berusaha maksimal
:-)
 
 
---------------------------------------------------------------------------------------
Di tengah dinginnya sekretariat saat para makhluk tidur
Di tengah bingungnnya meratapi berbagai hutang
>..<

Ceki "You have to do something or to be nothing"


A
S
D
F
105
0
0
45
100
-55
90
150
55
-225
275
130
5
-275
425
95
-45
-325
560
40
-190
-345
720
5
-90
-335
750
-70
-10
-360
715
30
-65
-405
525
130
120
-430
180
145
270
-405
-20
110
225
-585
-210
195
360
-560
-245
195
445
-520
-210
245
305
-510
-235
285
405
-490
-270
125
465
-525
-130
70
430
-565
70
-130
465
-550
130
-140
495
-470
200
-135
500
-320
275
-100
505
-45
85
-115
650
-5
60
-55
510
-5
35
125
660
-60
-10
-205

Oke ini bukan data dari sesuatu yang berarti. Ini adalah hasil permainan ceki malam ini. Ceki atau yang biasanya disebut remi.
*ceki itu bahasa kampungnya kayaknya deh
Permainan ini adalah permainan favorit kami di sekre. Permainan dimana kita harus membuat minimal 3 kartu urut sama lambang baru deh boleh keluar minimal 3 kartu kembar.
Kenapa gue posting hasil peraturan malam ini.
Karena gegara main permainan ini, rencana gue yang semula mau membuat tiga tulisan jadi berantakan semua.
Gegaranya malam ini cekinya ngeselin. Ngabisin staminan banget. Lihat tuh sudah 25 pertandingan tapi tetep aja belum ada yang nyampe poin 1000.
-..-
Mana joker yang keluar hampir setengahnya angka 4. Dan setiap angka 4 keluar selalu ada aja joker yang kebakar ditangan.
*makanya nilainya jelek semua

Pokoknya gegara permainan ini  :
1. Stamina kita pada habis, pada tepar semua
    *si Dio aja tepar.. banyangkan jam setengah 1 setelah permainan ini berakhir (disudahi)
      dia langsung tepar. Padahal biasanya melek sampai pagi kalau nginep.
2. Target gue menulis 3 tulisan cuma dapet 2. Dan yang satu isinya random gegara udah ngantuk.

Tapi setidaknya kita semua have fun lah. Sudah lama tidak tertawa terbahak-bahak bersama para takmir 2010 ini :-D

 

Dalam Futurnya Dansa Jari-jariku :-(


Tulisan ini yang pertama untuk bulan ini. Sebenernya kerasa banget buat orang yang suka menulis entah itu di blog, catatan kuliah, ataupun menulis journal dan lainnya. Seminggu tidak menulis itu rasanya mungkin sudah sangat kangen sekali. Tapi akan sangat berbeda sekali dengan saat kita merasa futur..
"Futurnya seseorang yang itu seminimal-minimalnya menulis satu kali dalam satu bulan" kata seseorang yang bergelut dikepenulisan.
 
Dan ceritanya sepertinya gue sedang futur nih. Banyak banget ide bertebaran di dalam kepala gue. Tapi entah kenapa ketika sedang berhadapan dengan lappie ataupun kertas rasanya jari-jari ini tidaklah mau berdansa membuat torehan yang bermakna. Padahal kerjaan juga nggak ada. Liburan juga banyak.

Lalu kenapaaa?
#heran

kalau kata Son Goku dari Dragon Ball mungkin "Jawabnya ada di ujung langit. Kita kesana dengan seorang anak. Anak yang tangkaaas. Dan juga pemberaniii~"
*kebanyakan nonton film kartun

Oke mungkin nggak perlu juga sampai pergi ke ujung langit. Tapi perlulah kita sekali-kali melihat ke langit dan membayangkan kenapa kita menjadi lemah seperti ini.
Dan disaat yang tepat aku membayangkan CES1.
*kuceritakan lain kali tentang CES1 ini :-)

Oke maaf tulisan diatas makin lama makin random.
Jadi kalau kita merasa futur, merasa lemah seperti ini perlu lah kita sekali-kali menyendiri untuk beristirahat diantara sejuknya dunia. Dan beristirahat untuk mengembalikan diri kita dari berbagai masalah yang ada.
Dan ketika gue sudah kembali ke hari-hari biasanya dimana menulis baik catatan tau blog akan terasa bahwa jari-jari ini perlu sedikit peregangan. Sampai-sampai catatan kuliah yang biasanya rapi aja jadi ga jelas gitu -..-
Maka dari itu jelaslah kalau kita harus rajin menulis entah itu coret-coretan agar tulisan kita tidak buruk bahkan semakin menjadi bagus. Karena menulis selalu ada di hari-hari kita.
Dan juga banyak mengistirahatkan kepala agar tidak penat dan tidak bingung mau menulis apa ketika tiba mau menulis.


----------------------------------------------------------------------------------------
Dalam kebingungan menyampaikan pikiran karena jarang menulis
Dan dalam anehnya permainan remi malam ini -..-

Angka 1 itu?


Kenapa harus angka 1?
Kenapa bukan angka 8 yang nggak putus, atau angka 6 dan 9 yang berkebalikan (emang yin yang orang timur -..-“)
Bukan karena angka 1 berarti adalah pemenang kan?
Bukan..
Angka satu sebenarnya bukan angka yang paling aku suka. Yang paling aku suka adalah angka 5, karena itu mempunyai banyak arti.
Tapi disini kita berbicara tentang arti.


Angka 1 itu penginisiasi.
Sebab angka 1 itu muncul untuk membawa variabel lain. Coba lihat variabel X. Itu kn konstantanya 1 dan pangkatnya 1 juga. Kalau nggak ada 1 ntar jadinya 0. Terus kalau berkembang jadi 2X, X2, 3X, …, nXn. Jadi angka satu itu menjadi pemulai atau biasnaya kita sebut dengna inisiator.

Angka 1 itu setia.
Karena setiap tahapan selanjutnya juga ada angka 1. Misal 2X. Itu kn 1*2X.
Jadi sebenernya angka 1 itu selalu ada (maksa banget deh)


Angka 1 itu pemalu.
Coba lihat tadi. Ketika variabel X muncul maka angka 1 itu ngumpet. Dia malu untuk tampil bersama X.
Kita anggap X itu adalah kebaikan. Setelah kebaikan itu ada, kan nggak baik juga kalau kita ngaku-ngaku yang membawa atau membuat kebaikan itu. Jadi nggak usahlah kita ikutan tampil juga. Cukup kebaikannya yang tampil dan membawa kebermanfaatan.


Angka 1 itu pemberani.
Berani memulai dan berani memimpin. Coba cek urutan yang benar itu 1234567890 atau 0123456789?
Di keyboar PC aja yang ada 1234567890 kan ya?


Angka 1 itu satu dari 2 angka penting.
Angka penting itu kan cuma 0 dan 1. Coba lihat aja bahasa mesin itu kan biner. Biner cuma ada 1 dan 0.
(oke yang ini bisa diabaikan karena random)


Dan yang paling suka à Angka 1 itu merepresentasikan imajinasi.
Dari semua sifat-sifatnya itu, angka satu itu mirip dengan imajinasi (Maksudnya impian ya) kita. 1  itu mudah.
1 * 1 = 1
1 : 1 = 1
1 ^ 1 = 1
(1) ^ ½ =1
Seperti halnya impian kita. Yang namanya impian itu harus kuat. Mau bertingkat, atau diganggu tidak akan berubah valuenya
Kenapa nggak ada (+) atau (-)?
Karena (+) atau (-) itu berarti faktor eksternal. Berbeda dengan (*) yang dimaksudkan bertingkat, dan (:) berarti gangguan.


 Tapi ada satu yang kurang dari angka 1 ini. Angka 1 cuma mampu menduduki peringkat kedua dalam hidupku. Tetap saja angka 5 jauh lebih berkesan.
Hahahaha

xD










-----------------------------------------------------
Ditengah malam yang penuh dengan imajinasi