Beban Akan Perubahan

paksaan yg hanya membawa perubahan
menjadi yg tidak sebenernya dibutuhkan oleh sistem
yg semula mampu berjalan walau pelan
menjadi berjalan cepat
tapi dengan penurunan oleh sang waktu
ada perubahan atau tidak ada..
sepertinya lebih baik tidak ada..
statis..
dalam fungsi yg seharusnya
- Cibubur, 23 Ramadhan 1433

Cerita sebuah kota yang terbiasa hidup dengan hawa panasnya yg mencekam. Seketika suasana dingin menyelimuti kota tersebut.
Sebagian orang berkata "tumben?"
sebagian lagi "asiiikk.."
namun ada juga yg berkata "imposible"
bahkan "pasti sebentar lg ada sesuatu"

Ya terkadang perubahan tidaklah menjamin akan kebahagian. Terkadang kita lebih mengangat "harus ada perubahan menjadi yg lebih maju" tapi kita lupa akan "yg tidak bahagia harus menjadi bahagia"
Terkadang kita terlena akan perjuangan-perjuangan kita untuk menjadi lebih baik. Bahkan sampai kita lupa untuk apa kita berjuang.

Diam Tanda Tak Mengertiku

Langit semakin gelap. Seakan mengiringi suasana hati yang penuh kegundahan ini. Ini pertama kalinya aku kehilangan “passion”ku di tempat ini. Sudah hampir 6 tahun, namun baru kali ini aku merasa bosan.

“apa yang terjadi man?” sahutnya padaku.

“entahlah. Aku sendiri seakan tidak mengerti. Semua terasa senja di mataku. Meskipun aku tahu matahari semakin lelah berdiri.” Jawabku padanya.

“ragamu seperti kelelahan, hatimu seperti kecewa, dan matamu seperti menangis.” Kata yang seorang lagi.

“ah mungkin ini karena efek terlalu banyak keluar rumah, kau tau lah fisik kita tidaklah seperti manusia kebanyakan.” Kuatku.

Detik demi detik terlalui begitu saja dan aku masih memikir apa penyebab diri ini terus merasa gundah. Tak lama kemudian galaxy callistoku berbunyi.

mas jadi diam
Ada apa-apa ya pas buka puasa kemaren?
Ade khawatir maas
Mas bneran gpapa?
Mas gk biasa diem gini
T.T

Ternyata ini penyebabku merasa gundah. Bukan karena isi sms atau siapa yang sms. Namun karena aku belum menyelesaikan seluruh targetanku bulan ini. Tepatnya bahkan aku tidak mengerti apa targetku. Beberapa hari lalu aku melihatnya sedang membuat apa saja yang harus ia capai bulan depan. Teringat juga dengan tugas untuk maba nanti yang harus membuat 100 cita-cita yang ingin mereka capai. Sedangkan aku? Aku bahkan tidak tahu aku harus ngapain satu detik lagi. Meskipun aku selalu menjalani hidup ini dengan skenario-skenario picisan yang kubuat sesuai idealismeku. Namun terkadang aku meragukan apakah itu benar-benar aku yang menyusunnya. Apakah benar aku? Atau diriku yang lain? Karena terkadang aku merasa ragu. Apalagi mengingat sifatku yang seperti ini.


Belum lama ini juga murabbi dari halaqah ketika masih SMA mengajak kembali merapat. Ternyata itu undangan berbuka puasa bersama halaqah dulu. Walau tempatnya tidak jauh berbeda dengan nuansa di jogja, yaitu rumah makan lele lela. Namun ada satu dekorasi yang membuatku tertegun. Yaitu sebuah banner bertulisan :

“buatlah rencana hidupmu sendiri atau selamanya jadi bagian dari rencana hidup orang lain”
Jleb.. kembali aku merenung mengingatnya…


Tak lama kemudian adzan shalat ashar berkumandang. Segera aku menghadap Sang Pencipta untuk bercerita akan kegundahan ini. Tentang perasaanku yang berawan dan juga cita-citaku menjaga senyum-senyum orang disekitarku yang selalu menjagaku, apalagi dirinya yang terkadang membuatku merasa tidak pantas karena kebaikannya.

Tak lama kemudian rintik-rintik dingin membasahi taman rumahku. Memberikan nuansa kesegaran terhadap rumahku. Namun terlihat tanah-tanah menjadi lembut dan mengotori jalan setapak ke lantai dua.

Walau terkadang air hujan menstabilkan alam.. namun ada juga yang labil karenanya
Namun dibalik gelapnya awan itu masih tersimpan langit biru dengan udara sejuk yang membawa kecerahan.. membawa masa depan cerah. Jadi tak usahlah kita bersedih atas apa kekurangan kita. Karena kita masih punya waktu untuk mengubahnya. Mengubahnya menjadi stabil kembali dengan tangan kita. Sebagaimana kita diminta Sang Pencipta untuk menjaga alam ini.

Sebuah foto kenangan (1)











Jeng jeng jeng jreeeng…
Ada yang tahu ini foto apa? Ini adalah foto sebuah bunga putih (ga tau namanya) yang sengaja dijatuhkan saat walimah salah satu anggota keluarga CES1 beberapa hari yang lalu. Anggap saja sebagai perlambangan atas teman-temanku yang berduka karena ditinggal nikah ndit dengan suaminya yang bernama mas yaul. Barakallah ya ndit :-D

Bukan berarti mereka sakit hati ya… hanya saja saya menikmati muka mereka yang sedikit sedih karena ndit yang mungkin sedikit mereka dambakan pergi dengan orang lain. Hahaha xD
Ndit merupakan teman sekelasku selama 3 tahun di SMA. Di kelas 3 ia duduk di depanku. Jadi kami sedikit akrab lah. Apalagi dia suka ngecengin aku dengan bahan cengan seseorang -..-
Terus arti foto ini apa?
Nggak ada kok. Hanya iseng aja… sok menghormati teman-temanku yang lain aja xD
barakallah ya ndit.. semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahma… serta juga amanah…
Nanti tunggu undanganku juga yaa… #eh

Journey's End

A silence from creation's womb
Contributes to the sense of gloom
The plight of sentient beings
Belies the good

Within each one of you
A universe awaits its birth
Alas your sleeping souls
Still stumble on your roads of rage

Sorrow, no more
Erase your lust for war
I know your truth
Your destiny's cure
Forbid your sins
To live again in time
Noble, righteous hearts could shine


Journey's End - Donna Burke - "The Last Remnant" closing

Aku, keluargaku, dan bukan keluargaku



Perhatian : Cerita ini bukanlah fakta. Cerita ini hanyalah fiksi biasa yang tercipta sebagai akibat dari emosi yang sedang dialami penulis dan dibentuk ulang dalam sebuah cerita fiksi yang sama sekali tidak ada unsur kesengajaan terhadap elemen-elemen isinya.





Aku kembali lagi ke ruangan hijau ini. Tempat dimana aku merasakan kesepian meskipun berkulit kehangatan. Aku tidak ingat kenapa aku kembali lagi ke tempat ini.

“tok.. tok.. tok..”
Bunyi pintu yang diketuk itu mengalihkan pikiranku yang sedang bereuni dengan ruangan ini.
“masuk”, jawabku. Ternyata yang datang adalah teman-temanku dari lembaga dimana aku menjabat. Perasaan senang meliputi hatiku karena ini pertama kalinya aku dijenguk orang lain selain keluargaku. Mereka semua menjengukku sebagai sebuah keluarga di tempat yang asing ini. Sekitar setengah jam mereka menghiburku dengan ejekan-ejakan yang mampu membuat kami satu ruangan tertawa. Hingga akhirnya mereka harus pergi karena ada amanah-amanah yang harus mereka lakukan sebagai satu kesatuan lembaga yang profesional.
“tok.. tok.. tok..”
Tak lama kemudian ada yang mengetuk kembali pintu ruangan ini. Begiku aku mempersilahkan mereka masuk ternyata keluarga dari lembaga yang sama walau berbeda person. Mereka semua berasal dari divisi yang sama. Perasaan senang kembali meliputi diriku.
Berhubung aku orang yang Kepo lantas aku bertanya “abis darimana? Kok gak bareng sama anak-anak yang lain tadi? Tadi mereka abis dari sini”. Mereka pun menjawab “Nggak abis dari mana-mana kok. Tadi kita nggak kumpul di sekre soalnya. Kita sengaja bareng-bareng soalnya kn kita dari divisi yang sama.” Dalam sekejap perasaan senang yang tadi meliputi hatiku lenyap seketika. Hanya tersisa kehampaan.
“bisa tinggalkan aku sendiri?” ucapku dengan wajah kosong. Mereka pun terdiam dengan ucapanku yang tidak mereka duga akan kuucap. “maaf, aku sedang ini istirahat”. Kuperhalus kata-kataku agar tidak terlalu menyakiti mereka. Dan mereka pun mematuhi kata-kataku karena mereka tahu dari air mukaku aku tidaklah bercanda.
Yang tersisanya hanyalah kesendirian kembali. Kesendirian yang semula sudah terbungkus oleh kehangatan itu kehilangan udara hangatnya. Dan akupun kembali bereuni dengan ruangan ini.
Memang aku adalah sedikit orang yang berbeda dengan yang lain. Aku mengutamakan kekeluargaan dibandingkan tujuan utama. Sebab apa artinya sebuah tujuan bila itu tercapai dengan mengorban rekan-rekan dan keluarga yang menemaniku. Aku tidak akan merasa senang apabila berhasil menggapainya namun kehilangan anggota keluargaku dalam perjalannku tersebut. Aku yakin bahwa dengan bersama-sama kita bisa mencapai semuanya. Walau terkadang tujuan itu gagal tercapai pasti tergantikan dengan esensi-esensi lainnya yang tidak kalah berarti. Ya aku tidak peduli terhadap mereka yang bukan keluargaku, namun aku tidak akan mengacuhkan mereka. Sebab itu pasti menyakiti perasaan keluargaku.