Soedirman 00

                Setiap setahun sekali di KMFT ada event follow up PPSMB (baca: Ospek) yang dikenal dengan The Engineering Leadership Workshop. Biasanya sih disingkat dengan kata TELESKOP. Ini nih acaranya pada anak-anak calon pengisi posisi strategis di lembaga masing-masing. Sebuah event dimana skill leadership benar-benar ditempa lebih dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 2 hari kayaknya deh). Sekarang bukannya lagi bercerita sebagai peserta ya. Tapi sudah sebagai seorang panitia. Hoho.. Di teleskop 11 ini sesuai namaya, tentu saja pesertanya adalah para adik-adik angkatan 2011. Dan kami para angkatan 2010 yang baru saja menyelesaikan teleskop tahun lalu menjadi panita untuk teleskop 11 ini. Cerita ini ga bakal ada kalau aku tetap kolot dengan kemalasanku saat itu. Malas untuk ikut kepanitian dalam beberapa selang waktu.Tapi tetep aja ada satu orang yang super rese menuntutku untuk ikutan jadi panitia. Sebut saja “You-Know-Who" or "He-Who-Must-Not-Be-Named". Gilak emang dah ini orang, satu hari kotak masuk handphoneku bisa full cuma karena terror dari ini makhluk. Yasudahlah daripada ganggu tidur aku terima saja sudah. Dan ketika ku tanya posisi apa saja yang kosong ternyata hanya tersisa pemandu dan pubdekdok. Langsung saja ku ketik pemandu ASAP.  Cukup sudah kemediaan untuk saat ini dalam benakku. Dan dari sinilah  sebagai seorang pemandu di Teleskop 11 dimulai. Sebuah kisah dimana kesabaranku diuji bukan main (lebay).

                Langsung saja kita skip persiapan acara dan langsung ke Stadium General. Ketika dibacakan pembagian kelompok-kelompok teleskop ini aku berharap agar aku mendapatkan kelompok yang isinya anak-anak BEM atau siapapun yang aku kenal. Dan bukan satu orang melainkan seluruhnya. Bukannya ngarep tapi saya sangat berharap. Kenapa? Selain karena kalau ke orang-orang yang sudah dikenal maka saya dapat tegaan ke mereka dalam hal menghina dna juga untuk tidak membuatku mati gaya karena harus menjaga sikap. Masa iya kalau aku dapat adik pandu yang serius nanti tak bencadain terus. Pasti mereka ga respect lah. Oleh karena itu aku berharap agar tidak dapat banyak adik yang tidak ku kenal. Dan ternyata doaku tidak dikabulkan.

Kelompok Soedirman…

Nur Laila Maghfirah Aziz
Naim Rahatun
Rhea Rosanti
Syahrial
Doddy Dirgantara Putra
Bakti (lupa namanya)
Ardian Rizaldi Putra S
Ilhaq
Agasi Rizal Kurniawan

Dipandu oleh : Aulia Arman

Oh tuhaaann… kenapa kau begitu kejam padaku.. mereka semua tak ada yang aku kenal sama sekali. T..T

                Bahkan belum apa-apa saja sudah banyak celotehan seperti “waaahh.. sabar ya dik dipandu arman..”, “hahaha… arman..” dan semacamnya. Biasa emang kalau orang terkenal banyak aja yang iri #plak.
Oke sekarang saatnya JAIM! Begitu tekadku bulat seketika. Dan ketika memulai kepemanduan yang pertama untuk bagi tugas aku berbicara sesopan tidak mungkin sampai-sampai aku sendiri merasa mau muntah atas sikapku yang ku buat-buat tidak seperti biasanya. Lanjut ke malam pertama mereka mengerjakan tugas tari. Melihat mereka menari saya semakin tidak kuat untuk menahan ketawa yang saya tahan-tahan semenjak SG. Ketawa yang isinya ingin sekali memotivasi mereka sambil mengejek (?). Apalagi melihat cara mereka latihan tari yang ironis seperti itu. Sampai akhirnya di hari kedua setelah SG kelompokku ini ketambahan seorang anggota dan itu adalah anak BEM. Namun yang satu ini tidaklah ku kenal sehingga ia pun tidak tahu seperti apa sifat asliku. Alhamdulillah. Aku masih bisa bersandirwa picisan ini. Nama anak Tersebut adalah Zaky Dzulfikar Harun. Selamat datang zaky ke mimpi burukmu. Kesalan pertamamu adalah kamu dipandu saya xD.

                Malam kedua latihan pun terlewati dengan tidak ada perubahan dengan bertambahnya 2 dua orang. Zaky dihitung dua ya. Dan hari pertama Teleskop akhirnya tiba juga. Di hari inipun aku masih saja memainkan sandiwara picisan tersebut. Hingga aku merasakan sesuatu yang kurang dari kelompok ini. Mereka sudah kompak kok, sudah akrab, sudah ramai, tapi ada satu yang kurang dari mereka. Kurang hidup. Masih mengikuti permainan yang ada. Tidak ada improvisasi. Dan puncak adalah saat siang hari menjelang shalat Dzuhur. Melihat bahwa ternyata mereka memang pada dasarnya sudah koplak semua. Naim yang suka nahan-nahan ketawa sendiri, zaky yang ketawa mulu dengan muka lemesnya, doddy dengan posisi tangannya dan kata “kok bisa gitu..”, lila dengan keanehannya, dan yang lainnya juga. Langsung saja kalimat “oke.. sekarang saatnya ga jaim-jaim lagi sama kalian. Berarti kita harus totalitas.. totalitas baik.. atau totalitas malu-maluin… oke?”. Yak niatku untuk jaim sudah patah di sesi ini. Dan alhasil sifatku pun keluar semua. Sepanjang acara berlangsung aku kembali menjadi orang luar biasa ramai yang seakan-akan tidak pernah kehabisan keceriaan. Sampai-sampai sedikit memalukan mungkin kalau di mata orang lain. Dan mereka pun keluar semua deh noraknya #eh. Dan hari pertama pun selesai

                Hari kedua Teleskop merupakan hari dimana isinya adalah outbound. Bahkan di outbound ini saja saya dipermainkan. Dipermainkan oleh adik pandu sendiri saat mereka kalah game di pos pertama -..-
Sungguh tega memang mereka. Dan lanjut ke pos-pos selanjutnya dimana kelakuan kami di luar imajinasi para panitia, maksudnya tidak hanya bersikap mengikuti acara. Sampai terjadilah insiden yang saya alami saat kami tidak berhasil mendapatkan bantuan transportasi apapun dengan kemampuan melobi yang sudah mereka dapat saat hari pertama. Namun tidak masalah lah. Sebab mereka sudah menunjukkan keberanian untuk melobi dan cara melobi yang baik saat ke menwa, ke sarang polisi dan juga ke rektorat. Meskipun hasilnya nihil tapi aku sangat bangga terhadap mereka. Mereka berani mencoba sesuatu yang aku yakin kelompok lain tidak lakukan, seperti ke sarang polisi dan melobi disana. Bahkan sebenarnya  mereka hampir mendapatkan bantuan, hanya saja jumlah kami yang memang terlalu banyak. Untuk membuat mereka tidak sedih dan tetap mendapatkan esensi dari acara yang berlangsung, ini adalah tugasku sebagai seorang pemandu. Dan dengan sedikit kata-kata ajaib, kami kembali ke fakultas teknik dengan bangga dan lapang dada. Selain outbound ada juga penampilan tari yang sudah bermalam-malam mereka latihan. Namun tak usah saya ceritakan ya. Karena saat kalian menarikan tarian piring itu semua orang memerhatikan dengan serius dan panitia-panitia bilang kepada saya bahwa tarian kalian bagus sekali. Dan tidak keluar dari permintaan yang hanya tarian, bukan tarian + drama. Di akhir drama inipun kalian semakin membuat saya bangga dengan hadiah yang kalian berikan. Memang bukan sesuatu yang mahal, tapi komentar-komentar kalian itu berkesan buat saya. Meskin rata-rata ejekan semua -..-

                Yah memang kita tidak bisa sampai pos terakhir karena memang waktunya yang tidak cukup. Namun sudah ku lunasi dengan olah raga bersepeda ke antah berantah yang akan ku ceritakan selanjutnya. Malah ada poin ++nya nih. Kita main-main tidak hanya satu kali ini saja.. tapi aka ada acara main-main selanjutnya… karena bersama Aulia Arman selalu ada keseruan dan keceriaan. Jadi siap-siap saja ya ketika nanti ada ajakan jalan-jalan dariku hai Soedirman :-D
*kurang syahrial nih, posenya saya gantikan kn jadinya -..-

Selamat Idul Fitri 1433 H

Untuk seseorang - Beginilah dakwah mengajarkan kita

"Percuma!". Hanya kata itu yang dapat kuucapkan pada diriku sendiri. Termenung melihat adik-adik ikrema yang luar biasa ini. Tapi ada gunanya saat aku tidak mampu memberikan apa-apa untuk mereka. Terutama saat Ash-shaff sedang galau akan kader penerus seperti sekarang. Meski banyak dari kakak-kakak Ash-shaff yang bilang "arman sekarang udah jadi orang hebat..", "arman sekarang udah jadi yaa.. ga kayak dulu yang masih belum jelas..", "kak arman, ini... itu...". Namum perubahan yang aku peroleh ini. Hal-hal hina yang dulu menjadi karakterku yang dua tahun ini aku upayakan dapat tergantikan dengan ilmu-ilmu yang mampu mengubahku ternyata tidak dapat aku berikan apa-apa untuk mereka. Bukan masalah teman-teman yang menghilang kemana sampai-sampai ada kakak Ash-shaff yang berkata "siap-siap saja yang akhwat jadi mas'ul"
Candaan yang menurutku bisa saja jadi kenyataan.

Aku memang kurang berilmu dibandingkan ikhwan-ikhwan yang lain. Namun aku siap semisal aku memberikan mereka mentoring. Tapi apa daya jarakku dengan mereka terpaut 500km lebih, bahkan hampir 600km (lupa pastinya). Aku bahkan tidak bisa memberikan semangat kepada adik-adikku yang beranjak kelas XII untuk memegang kelas X.

Lantas dimana peranku? tanyaku heran.

Namun inilah ajaibnya menulis.. seketika kepalaku menjadi dingin lagi. Dan dapat memikirkan hal dengan jernih.

Inilah bagaimana dakwah mengajari kami. Bukti bahwa seorang pemimpin dinyatakan berhasil adalah saat ia mampu mencetak generasi penerusnya. Sehingga estafet perjuangan dakwah ini tidaklah putus. Oleh karena itu lah pada umumnya di setiap lembaga pasti memiliki yang namanya PSDM atau bidang kaderisasi. Kalau memang kurang sumber daya atau tidak ada, yasudah marilah kita ciptakan penerusnya. Dan juga dakwah mengajarkan kita untuk terbiasa perjalanan 5 jam demi kebermanfaatan 1 jam yang nantinya justru menjadi kontinu. Tak masalah kita lebih banyak menghabiskan waktu dalam persiapan. Toh dalam kepanitiaan pun seperti itu. Berhari-hari persiapan hanya untuk satu hari acara, atau bahkan setengah hari hingga 3 jam.

Tak perlu kita habiskan waktu kita untuk berpusing ria, apalagi mengeluh. Cuma akan menjadi beban justru akan memberatkan langkah-langkah perjuangan kita. Memang tidak semudah saya menulis dalam melaksanakannya nanti.. namun tidak ada salahnya kita mencoba kan?

Tak perlu bingung kakak-kakakku... Allah maha kaya.. bukan hanya dana, namun pasti Allah akan memberikan kita sumber daya yang siap melanjutkan estafer perjuangan ini. Dengan syarat kita siap untuk menyisihkan lebih waktu kita dalam mempersiapkannya..
:-)
untuk : kak irawan, kak idris, kak warits, rekan-rekan Ash-shaff dan adik-adik ikrema

Beban Akan Perubahan

paksaan yg hanya membawa perubahan
menjadi yg tidak sebenernya dibutuhkan oleh sistem
yg semula mampu berjalan walau pelan
menjadi berjalan cepat
tapi dengan penurunan oleh sang waktu
ada perubahan atau tidak ada..
sepertinya lebih baik tidak ada..
statis..
dalam fungsi yg seharusnya
- Cibubur, 23 Ramadhan 1433

Cerita sebuah kota yang terbiasa hidup dengan hawa panasnya yg mencekam. Seketika suasana dingin menyelimuti kota tersebut.
Sebagian orang berkata "tumben?"
sebagian lagi "asiiikk.."
namun ada juga yg berkata "imposible"
bahkan "pasti sebentar lg ada sesuatu"

Ya terkadang perubahan tidaklah menjamin akan kebahagian. Terkadang kita lebih mengangat "harus ada perubahan menjadi yg lebih maju" tapi kita lupa akan "yg tidak bahagia harus menjadi bahagia"
Terkadang kita terlena akan perjuangan-perjuangan kita untuk menjadi lebih baik. Bahkan sampai kita lupa untuk apa kita berjuang.

Diam Tanda Tak Mengertiku

Langit semakin gelap. Seakan mengiringi suasana hati yang penuh kegundahan ini. Ini pertama kalinya aku kehilangan “passion”ku di tempat ini. Sudah hampir 6 tahun, namun baru kali ini aku merasa bosan.

“apa yang terjadi man?” sahutnya padaku.

“entahlah. Aku sendiri seakan tidak mengerti. Semua terasa senja di mataku. Meskipun aku tahu matahari semakin lelah berdiri.” Jawabku padanya.

“ragamu seperti kelelahan, hatimu seperti kecewa, dan matamu seperti menangis.” Kata yang seorang lagi.

“ah mungkin ini karena efek terlalu banyak keluar rumah, kau tau lah fisik kita tidaklah seperti manusia kebanyakan.” Kuatku.

Detik demi detik terlalui begitu saja dan aku masih memikir apa penyebab diri ini terus merasa gundah. Tak lama kemudian galaxy callistoku berbunyi.

mas jadi diam
Ada apa-apa ya pas buka puasa kemaren?
Ade khawatir maas
Mas bneran gpapa?
Mas gk biasa diem gini
T.T

Ternyata ini penyebabku merasa gundah. Bukan karena isi sms atau siapa yang sms. Namun karena aku belum menyelesaikan seluruh targetanku bulan ini. Tepatnya bahkan aku tidak mengerti apa targetku. Beberapa hari lalu aku melihatnya sedang membuat apa saja yang harus ia capai bulan depan. Teringat juga dengan tugas untuk maba nanti yang harus membuat 100 cita-cita yang ingin mereka capai. Sedangkan aku? Aku bahkan tidak tahu aku harus ngapain satu detik lagi. Meskipun aku selalu menjalani hidup ini dengan skenario-skenario picisan yang kubuat sesuai idealismeku. Namun terkadang aku meragukan apakah itu benar-benar aku yang menyusunnya. Apakah benar aku? Atau diriku yang lain? Karena terkadang aku merasa ragu. Apalagi mengingat sifatku yang seperti ini.


Belum lama ini juga murabbi dari halaqah ketika masih SMA mengajak kembali merapat. Ternyata itu undangan berbuka puasa bersama halaqah dulu. Walau tempatnya tidak jauh berbeda dengan nuansa di jogja, yaitu rumah makan lele lela. Namun ada satu dekorasi yang membuatku tertegun. Yaitu sebuah banner bertulisan :

“buatlah rencana hidupmu sendiri atau selamanya jadi bagian dari rencana hidup orang lain”
Jleb.. kembali aku merenung mengingatnya…


Tak lama kemudian adzan shalat ashar berkumandang. Segera aku menghadap Sang Pencipta untuk bercerita akan kegundahan ini. Tentang perasaanku yang berawan dan juga cita-citaku menjaga senyum-senyum orang disekitarku yang selalu menjagaku, apalagi dirinya yang terkadang membuatku merasa tidak pantas karena kebaikannya.

Tak lama kemudian rintik-rintik dingin membasahi taman rumahku. Memberikan nuansa kesegaran terhadap rumahku. Namun terlihat tanah-tanah menjadi lembut dan mengotori jalan setapak ke lantai dua.

Walau terkadang air hujan menstabilkan alam.. namun ada juga yang labil karenanya
Namun dibalik gelapnya awan itu masih tersimpan langit biru dengan udara sejuk yang membawa kecerahan.. membawa masa depan cerah. Jadi tak usahlah kita bersedih atas apa kekurangan kita. Karena kita masih punya waktu untuk mengubahnya. Mengubahnya menjadi stabil kembali dengan tangan kita. Sebagaimana kita diminta Sang Pencipta untuk menjaga alam ini.